7 Aliran filsafat yang paling berpengaruh di
dunia
1. PRAGMATISME
Pragmatisme adalah
aliran filsafat yang
mengajarkan bahwa yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan
dirinya sebagai benar dengan melihat kepada akibat-akibat atau hasilnya yang
bermanfaat secara praktis. Dengan demikian, bukan kebenaran objektif dari
pengetahuan yang penting melainkan bagaimana kegunaan praktis dari pengetahuan
kepada individu-individu.
Dasar dari pragmatisme adalah logika pengamatan,
di mana apa yang ditampilkan pada manusia dalam
dunia nyata merupakan fakta-fakta individual, konkret, dan terpisah satu sama
lain. Dunia ditampilkan apa adanya dan perbedaan diterima begitu saja.
Representasi realitas yang muncul di pikiran manusia selalu bersifat pribadi
dan bukan merupakan fakta-fakta umum. menjadi benar ketika memiliki fungsi
pelayanan dan kegunaan. Dengan demikian, filsafat pragmatisme tidak mau
direpotkan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kebenaran, terlebih yang
bersifat metafisik,
sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan filsafat Barat di
dalam sejarah.
Awal mula
Aliran ini terutama berkembang di Amerika
Serikat, walau pada awal perkembangannya sempat juga berkembang ke Inggris, Perancis,
dan Jerman. William James adalah
orang yang memperkenalkan gagasan-gagasan dari aliran ini ke seluruh
dunia. William James dikenal juga secara luas dalam bidang psikologi. Filsuf
awal lain yang terkemuka dari pragmatisme adalah John Dewey. Selain
sebagai filsuf, Dewey juga dikenal sebagai kritikus sosial dan pemikir dalam
bidang pendidikan.
Secara etimologis, kata 'pragmatisme'
berasal dari kata bahasa Yunani pragmatikos yang
berarti cakap dan berpengalaman dalam urusan hukum, dagang, dan perkara negara.
Istilah pragmatisme disampaikan pertama kali oleh Charles
Peirce pada bulan Januari 1878
dalam artikelnya yang berjudul How
to Make Our Ideas Clear.
Teori tentang kebenaran
Menurut teori klasik
tentang kebenaran, dikenal dua posisi yang berbeda, yakni teori
korespondensi dan teori
koherensi. Teori korespondensi menekankan persesuaian antara si
pengamat dengan apa yang diamati sehingga kebenaran yang ditemukan adalah
kebenaran empiris,
sedangkan teori koherensi menekankan pada peneguhan terhadap ide-ide a priori atau
kebenaran logis, yakni jika proposisi-proposisi yang diajukan koheren satu sama
lain. Selain itu, dikenal lagi satu posisi lain yang berbeda dengan dua
posisi sebelumnya, yakni teori pragmatis. Teori pragmatis menyatakan bahwa 'apa
yang benar adalah apa yang berfungsi.' Bayangkan sebuah mobil dengan
segala kerumitan mesin yang membuatnya bekerja, namun yang sesungguhnya menjadi
dasar adalah jika mobil itu dapat bekerja atau berfungsi dengan baik.
Perkembangan pragmatisme
Apa yang disebut dengan neo-pragmatisme juga
berkembang di Amerika Serikat dengan tokoh utamanya, Richard
Rorty. Salah satu pemikirannya yang terkenal adalah bagaimana bahasa
menentukan pengetahuan. Karena bahasa hadir dalam bentuk jamak, demikianlah
pengetahuan pun tidak hanya satu dan tidak dapat dipandang universal, atau
dengan kata lain, tidak ada pola yang rasional terhadap pengetahuan. Budaya
atau nilai-nilai yang ada dilihat secara fungsinya terhadap manusia.
2. VITALISME
Vitalisme adalah suatu doktrin yang
mengatakan bahwa suatu kehidupan terletak di luar dunia materi dan
karenanya kedua konsep ini, kehidupan dan materi, tidak bisa saling
mengintervensi. Dimana doktrin ini menghadirkan suatu konsep energi, elan
vital, yang menyokong suatu kehidupan dan energi ini bisa disamakan dengan
keberadaan suatu jiwa.
Pada awal perkembangan filosofi di
dunia medis, konsep energi ini begitu kental sehingga seseorang dinyatakan
sakit karena adanya ketidakseimbangan dalam energi vitalnya. Dalam kebudayaan
barat, yang dikaitkan dengan Hippocrates,
energi vital ini diwakilkan dengan humours; dan dalam budaya
timur diwakilkan oleh qi maupun prana.
3. FENOMENOLOGI
Edmun Husserl
(1859-1938) adalah pendiri aliran fenomenologi, ia telah empengaruhi pemikiran
filsafat abad ke 20 ini secara amat mendalam. Fenomenologi adalah ilmu (logos)
pengetahuan tentang apa yang tampak (phainomenon). Dengan demikian fenomenologi
adalah ilmu yang mempelajari yang tampak atau apa yang menampakkan diri atau
fenomenon. Bagi Husserl fenomena ialah realitas sendiri yang tampak, tidak ada
selubung atau tirai yang memisahkan subjek dengan realitas, realitas itu
sendiri yang tampak bagi subjek.
Dengan pandangan tentang fenomena ini Husserl mengadakan semacam revolusi dalam filsafat barat. Sejak Descartes, kesadaran selalu dimengerti sebagai kesadaran tertutup atau cogito tertutup, artinya kesadaran mengenal diri sendiri dan hanya melalui jalan itu mengenal realitas. Sebaliknya Husserl berpendapat bahwa kesadaran terarah pada realitas, “kesadaran bersifat intensional” sebetulnya sama artinya dengan mengatakan realitas menampakkan diri.
Dengan pandangan tentang fenomena ini Husserl mengadakan semacam revolusi dalam filsafat barat. Sejak Descartes, kesadaran selalu dimengerti sebagai kesadaran tertutup atau cogito tertutup, artinya kesadaran mengenal diri sendiri dan hanya melalui jalan itu mengenal realitas. Sebaliknya Husserl berpendapat bahwa kesadaran terarah pada realitas, “kesadaran bersifat intensional” sebetulnya sama artinya dengan mengatakan realitas menampakkan diri.
Anggapan para
ahli tertentu lebih mengartikan fenomenologi sebagai suatu metode dalam
mengamati,memahami, mengartikan, dan memaknakan sesuatu daripada sebagai pendirian
atau suatu aliran filsafat. Dalam pengertian sebagai suatu metode, Kant dan
Husserl mengatakan bahwa apa yang dapat kita amati hanyalah fenomena bukan
neumenon atau sumbernya gejala itu sendiri. Denga demikian, terhadap hal yang
kita amati terdapat hal-hal yang membuat pengamatannya tidak murni sehingga
perlu adanya reduksi. Jadi, pengamatan biasa (natuerliche Einstellung) akan
menimbulkan bias. Meskipun pengamatannya merupakan hal biasa pada manusia
umumnya, namun tidak memuaskan filosof dan mereka yang menginginkan kebenaran
secara murni (reine wessenschau). Adapun hal yang harus dilakukan adalah
pertama-tama reduksi fenomenologi (phaenomenologische reduction) atau disebut
juga reduksi epochal atau menjadikan apa yang bukan bagian saya (das nicht ich)
menjadi bagian saya (dasa ich).
Tiga hal yang perlu kita sisihkan
dalam usaha menginginkan kebenaran yang murni, yaitu :
a.Membebaskan diri dari unsur subjektif,
b. Membebaskan diri dari kungkungan teori-teori, dan hipotesis-hipotesis,
c.Membebaskan diri dari doktrin-doktrin tradisional
Setelah mengalami reduksi tingkat pertama, yaitu reduksi fenomenologi atau reduksi epochal, fenomena yang kita hadapi menjadi fenomea yang murni, tetapi belum mencapai hal yang mendasar atau makna yang sebenarnya. Oleh karena itu perlu dilakukan reduksi kedua yang disebut reduksi eiditis. Melalui reduksi kedua, fenomena yang kita hadapi mampu mencapai inti atau esensi. Kedua reduksi tersebut adalah mutlak. Selain kedua reduksi tersebut terdapat reduksi ketiga dan yang berikutnya dengan maksud mendapatkan pengamatan yang murni, tidak terkotori oleh unsur apa pun, serta dalam usaha mencari kebenaran yang tertinggi.
a.Membebaskan diri dari unsur subjektif,
b. Membebaskan diri dari kungkungan teori-teori, dan hipotesis-hipotesis,
c.Membebaskan diri dari doktrin-doktrin tradisional
Setelah mengalami reduksi tingkat pertama, yaitu reduksi fenomenologi atau reduksi epochal, fenomena yang kita hadapi menjadi fenomea yang murni, tetapi belum mencapai hal yang mendasar atau makna yang sebenarnya. Oleh karena itu perlu dilakukan reduksi kedua yang disebut reduksi eiditis. Melalui reduksi kedua, fenomena yang kita hadapi mampu mencapai inti atau esensi. Kedua reduksi tersebut adalah mutlak. Selain kedua reduksi tersebut terdapat reduksi ketiga dan yang berikutnya dengan maksud mendapatkan pengamatan yang murni, tidak terkotori oleh unsur apa pun, serta dalam usaha mencari kebenaran yang tertinggi.
4. EKSISTENSIALISME
Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang
pahamnya berpusat pada manusia individu yang
bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam
mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui
mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar
bahwa kebenaran bersifat relatif, dan karenanya masing-masing individu bebas
menentukan sesuatu yang menurutnya benar.
Eksistensialisme adalah salah satu
aliran besar dalam filsafat, khususnya tradisi filsafat Barat. Eksistensialisme
mempersoalkan keber-Ada-an manusia, dan keber-Ada-an itu dihadirkan lewat
kebebasan. Pertanyaan utama yang berhubungan dengan eksistensialisme adalah
melulu soal kebebasan. Apakah kebebasan itu? bagaimanakah manusia yang bebas
itu? dan sesuai dengan doktrin utamanya yaitu kebebasan, eksistensialisme
menolak mentah-mentah bentuk determinasi terhadap kebebasan kecuali kebebasan
itu sendiri.
Dalam studi sekolahan filsafat eksistensialisme
paling dikenal hadir lewat Jean-Paul Sartre, yang terkenal dengan
diktumnya "human is condemned to be free", manusia
dikutuk untuk bebas, maka dengan kebebasannya itulah kemudian manusia
bertindak. Pertanyaan yang paling sering muncul sebagai derivasi kebebasan
eksistensialis adalah, sejauh mana kebebasan tersebut bebas? atau "dalam
istilah orde baru", apakah eksistensialisme mengenal "kebebasan yang
bertanggung jawab"? Bagi eksistensialis, ketika kebebasan adalah
satu-satunya universalitas manusia, maka batasan dari kebebasan dari setiap
individu adalah kebebasan individu lain.
Namun, menjadi eksistensialis, bukan
melulu harus menjadi seorang yang lain-daripada-yang-lain, sadar bahwa
keberadaan dunia merupakan sesuatu yang berada diluar kendali manusia, tetapi
bukan membuat sesuatu yang unik ataupun yang baru yang menjadi esensi dari
eksistensialisme. Membuat sebuah pilihan atas dasar keinginan sendiri, dan
sadar akan tanggung jawabnya dimasa depan adalah inti dari eksistensialisme.
Sebagai contoh, mau tidak mau kita akan terjun ke berbagai profesi seperti
dokter, desainer, insinyur, pebisnis dan sebagainya, tetapi yang dipersoalkan
oleh eksistensialisme adalah, apakah kita menjadi dokter atas keinginan orang
tua, atau keinginan sendiri.
Kaum eksistensialis menyarankan
kita untuk membiarkan apa pun yang akan kita kaji, baik itu benda, perasaaan,
pikiran, atau bahkan eksistensi manusia itu sendiri untuk menampakkan dirinya
pada kita. Hal ini dapat dilakukan dengan membuka diri terhadap pengalaman,
dengan menerimanya, walaupun tidak sesuai dengan filsafat, teori, atau
keyakinan kita.
5. ANALITIK
Filsafat
analitik adalah
aliran filsafat yang muncul dari kelompok filsuf yang menyebut dirinya
lingkaran Wina.
Filsafat analitik lingkaran Wina itu berkembang dari Jermanhingga
ke luar, yaitu Polandia dan Inggris.
Pandangan utamanya adalah penolakan terhadap metafisika. Bagi mereka, metafisika tidak
dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Jadi filsafat analitik memang mirip
dengan filsafat sains.
Di Inggris misalnya,
gerakan Filsafat analitik ini sangat dominan dalam bidang bahasa.
Kemunculannya merupakan reaksi keras terhadap pengikut Hegel yang
mengusung [idealisme]] total. Dari pemikirannya, filsafat analitik merupakan
pengaruh dari rasionalisme Prancis, empirisisme Inggris dan kritisisme Kant.
Selain itu berkat empirismeJohn Locke pada abad
17 mengenai empirisisme, yang merupakan penyatuan antara empirisisme Francis
Bacon, Thomas Hobbes dan rasionalisme Rene
Descartes. Teori Locke adalah bahwa rasio selalu dipengaruhi atau
didahului oleh pengalaman. Setelah membentuk ilmu pengetahuan, maka akal budi
menjadi pasif. Pengaruh ini kemudian merambat ke dunia filsafat Amerika
Serikat, Rusia, Prancis,
Jerman dan wilayah Eropa lainnya.
Setelah era idealisme dunia Barat yang
berpuncak pada Hegel, maka George Edward
Moore (1873-1958), seorang tokoh dari Universitas Cambridge
mengobarkan anti Hegelian. Bagi Moore, filsafat Hegel tidak memiliki dasar
logika, sehingga tidak dapat dipertanggungjawabkan secara akal sehat. Kemudian
pengaruhnya menggantikan Hegelian, yang sangat terkenal dengan Filsafat bahasa,
filsafat analitik atau analisis logik.
Tokoh yang mengembangkan filsafat ini
adalah Bertrand Russell dan Ludwig
Wittgenstein. Mereka mengadakan analisis bahasa untuk memulihkan
penggunaan bahasa untuk memecahkan kesalahpahaman yang dilakukan oleh filsafat
terhadap logika bahasa. Hal inilah yang ditekankan oleh Charlesworth.
Penekanan lain oleh Wittgenstein adalah makna kata atau kalimat amat ditentukan
oleh penggunaan dalam bahasa, bukan oleh logika.
6. STRUKTULISME
Aliran filsafat eksistensialisme yang
menjadi mode berfilsafat pada pertengahan abad ke-20 mendapat reaksi dari
aliran Strukturalisme. Jika eksistensialisme menekankan pada peranan individu,
maka strukturalisme juga melihat manusia “terkungkung” dalam berbagai struktur
dalam kehidupannya. Secara garis besar ada dua pengertian pokok yang sangat
erat kaitannya dengan strukturalisme sebagai aliran filsafat.
a. Strukturalisme adalah metode atau metodologi yang digunakan untuk mempelajari ilmu-ilmu kemanusiaan dengan bertitik tolak dari prinsip-prinsip linguistik yang dirintis oleh Ferdinandde Saussure.
b. Strukturalisme merupakan aliran filsafat yang hendak memahami masalah yang muncul dalam sejarah filsafat. Di sini metodologi struktural dipakai untuk membahas tentang manusia, sejarah, kebudayan dan alam, yaitu dengan membuka secara sistematik struktur-struktur kekerabatan dan struktur-struktur yang lebih luas dalam kesusasteraan dan dalam pola-pola psikologik tak sadar yang menggerakkan tindakan manusia.
Para sturukturalis filosofis yang menerapkan prinsip-prinsip strukturalisme linguistic dalam berfilsafat bereaksi terhadap aliran filsafat Fenomenologi dan eksistensialisme yang melihat manusia dari sudut pandang yang subjektif.
Tokoh berpengaruh dalam aliran filsafat strukturalisme adalah Michel Foucault (1926-1984). Kesudahan “manusia” sudah dekat, itulah pendirian Foucault yang sudah terkenal tentang “kematian” manusia. Maksud Foucault bukannya bahwa nanti tidak ada manusia lagi, melainkan bahwa akan hilang konsep “manusia” sebagai suatu kategori istimewa dalam pemikiran kita. Manusia akan kehilangan tempatnya yang sentral dalam bidang pengetahuan dan dalam kultur seluruhnya.
a. Strukturalisme adalah metode atau metodologi yang digunakan untuk mempelajari ilmu-ilmu kemanusiaan dengan bertitik tolak dari prinsip-prinsip linguistik yang dirintis oleh Ferdinandde Saussure.
b. Strukturalisme merupakan aliran filsafat yang hendak memahami masalah yang muncul dalam sejarah filsafat. Di sini metodologi struktural dipakai untuk membahas tentang manusia, sejarah, kebudayan dan alam, yaitu dengan membuka secara sistematik struktur-struktur kekerabatan dan struktur-struktur yang lebih luas dalam kesusasteraan dan dalam pola-pola psikologik tak sadar yang menggerakkan tindakan manusia.
Para sturukturalis filosofis yang menerapkan prinsip-prinsip strukturalisme linguistic dalam berfilsafat bereaksi terhadap aliran filsafat Fenomenologi dan eksistensialisme yang melihat manusia dari sudut pandang yang subjektif.
Tokoh berpengaruh dalam aliran filsafat strukturalisme adalah Michel Foucault (1926-1984). Kesudahan “manusia” sudah dekat, itulah pendirian Foucault yang sudah terkenal tentang “kematian” manusia. Maksud Foucault bukannya bahwa nanti tidak ada manusia lagi, melainkan bahwa akan hilang konsep “manusia” sebagai suatu kategori istimewa dalam pemikiran kita. Manusia akan kehilangan tempatnya yang sentral dalam bidang pengetahuan dan dalam kultur seluruhnya.
7. Posmo
Dunia saat ini
sedang bergejolak, khususnya dalam bidang filsafat, ilmu, seni dan kebudayaan.
Manusia merasa tidak puas dan tidak dapat bertahan dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, kapitalisme, serta cara berpikir modern. Modernisme
dianggap sudah usang dan harus diganti dengan paradigma baru yaitu
posmodernisme.
Posmodernisme
adalah suatu pergerakan ide yang menggantikan ide-ide zaman modern (yang
mengutamakan rasio, objektivitas, dan kemajuan). Posmodern memiliki cita-cita,
ingin meningkatkan kondisi ekonomi dan sosial, kesadaran akan peristiwa sejarah
dan perkembangan dalam bidang penyiaran. Posmodern mengkritik modernisme yang
dianggap telah menyebabkan desentralisasi di bidang ekonomi dan teknologi,
apalagi hal ini ditambah dengan pengaruh globalisasi. Selain itu, posmodern
menganggap media yang ada saat ini hanya berkutat pada masalah yang sama dan
saling meniru satu sama lain.
Wacana
posmodern menjadi popular setelah Francois Lyotard (1924) menerbitkan bukunya The Postmodern Condition : A Report on Knowledge (1979). Posmodern pada awal kelahirannya
merupakan kritik terhadap arus modernism yang semakin menggusur humanisme dari
manusia sendiri, melahirkan materialism dan konsumerisme yang merusak
lingkungan dan menguras semangat serta nilai masyarakat. Posmodernisme beraksi
terhadap inti filsafat modernism; Idealisme Descartes, Empirisisme Locke, dan
Eksistensialisme Husserl, analisis logis Newton dan metode ilmiah Prancis
Bacon.
Francois
Lyotard mengatakan bahwa posmodernisme merupakan intensifikasi yang dinamis,
yang merupakan upaya terus menerus untuk mencari kebaruan, eksperimentasi dan
revolusi kehidupan, yang menentang dan tidak percaya pada segala bentuk narasi
besar, berupa penolakannya terhadap filsafat metafisis, filsafat sejarah, dan
segala bentuk pemikiran totalitas, seperti Hegelian, Liberalisme, Marxisme, dan
lain-lain. Posmodern dalam bidang filsafat dapat diartikan segala bentuk
refleksi kritis atas paradigma modern dan atas metafisika pada umumnya.
Posmodernis
awal, Nietzsche, mengkritik Modernism (sains) sebagai kecurangan yang mengklaim
kebenaran yang tetap, netral dan objektif padahal sesuatu itu adalah mustahil.
Bagi Nietzsche, penjelasan ilmiah bukan penjelasan yang sebenarnya; itu hanya
menghasilakan deskripsi yang rumit. Sedangkan Foucault curiga bahwa sains bukan
disiplin netral seperti diklaim kaum Modernis, ada banyak teori bersaing dan
berkompetisi disana. Sedangkan Baudrillard curiga terhadap peran media massa
sebagai wujud dari modernisasi yang telah banyak melakukan kebohongan. “Apakah
kita benar-benar melihat apa yang terjadi? Siapa mengatakan hal itu? Begitu
kecurigaan Baudrillard. Bahkan ia curiga bahwa perang teluk hanyalah drama
layar kaca, tidak benar-benar terjadi. ” Peperangan modern adalah peperangan
cyber,”. Menurut kaum posmodernis Ia adalah sebuah rekayasa penuh kepentingan
dari agenda kapitalisme. Baudrillard melihat kapitalisme sebagai ssuatu yang
mengubah manusia menjadi benda.
Menurut
Pauline Rosenau mengatakan bahwa, posmodernisme menganggap modernisme telah
gagal dalam beberapa hal penting antara lain:
Pertama, modernisme gagal mewujudkan perbaikan-perbaikan
dramatis sebagaimana diinginkan para pedukung fanatiknya.
Kedua, ilmu pengetahuan modern tidak mampu melepaskan diri
dari kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan otoritas seperti tampak pada
preferensi-preferensi yang seringkali mendahului hasil penelitian.
Lima
paradoks yang digarisbawahi Ahmed antara lain ialah (Akbar S. Ahmed; 2002) :
masyarakat mengajukan kritik pedas terhadap materialisme, tetapi pada saat yang
sama pola hidup konsumerisme semakin menguat; masyarakat bisa menikmati
kebebasan individual yang begitu prima yang belum pernah terjadi dalam sejarah,
namun pada saat yang sama peranan Negara bertambah kokoh; dan masyarakat
cenderung ragu terhadap agama, tetapi pada saat yang sama terdapat indikasi
kelahiran metafisika dan agama.
Ketiga, ada semacam kontradiksi antara teori
dan fakta dalam perkembangan ilmu-ilmu modern.
Keempat, ada semacam keyakinan – yang sesungguhnya tidak
berdasar– bahwa ilmu pengetahuan modern mampu memecahkan segala persoalan yang
dihadapi manusia dan lingkungannya; dan ternyata keyakinan ini keliru manakala
kita menyaksikan bahwa kelaparan, kemiskinan, dan kerusakan lingkungan terus
terjadi menyertai perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi.
DanKelima, ilmu-ilmu modern kurang memperhatikan dimensi-dimensi mistis dan
metafisik eksistensi manusia karena terlalu menekankan pada atribut fisik
individu.
Posmodernisme
muncul untuk “meluruskan” kembali interpretasi sejarah yang dianggap otoriter.
Untuk itu postmodernisme menghimbau agar kita semua berusaha keras untuk
mengakui adanya identitas lain yang berada di luar wacana hegemoni.
Posmodernisme mencoba mengingatkan kita untuk tidak terjerumus pada kesalahan
fatal dengan menawarkan pemahaman perkembangan kapitalisme dalam kerangka
genealogi (pengakuan bahwa proses sejarah tidak pernah melalui jalur tunggal,
tetapi mempunyai banyak “sentral”).
Postmodernisme
mengajak kaum kapitalis untuk tidak hanya memikirkan hal-hal yang berkaitan
dengan peningkatan produktivitas dan keuntungan saja, tetapi juga melihat pada
hal-hal yang berada pada alur vulgar material yang selama ini dianggap sebagai
penyakit dan obyek pelecehan saja.
Postmodernisme
sebagai suatu gerakan budaya sesungguhnya merupakan sebuah oto-kritik dalam
filsafat Barat yang mengajak kita untuk melakukan perombakan filosofis secara
total untuk tidak lagi melihat hubungan antar paradigma maupun antar wacana
sebagai suatu “dialektika” seperti yang diajarkan Hegel. Postmodernisme
menyangkal bahwa kemunculan suatu
wacana
baru pasti meniadakan wacana sebelumnya. Sebaliknya gerakan baru ini mengajak
kita untuk melihat hubungan antar wacana sebagai hubungan “dialogis” yang
saling memperkuat satu sama lain.
Berkaitan
dengan kapitalisme dunia misalnya, Postmodenisme menyatakan bahwa krisis yang
terjadi saat ini adalah akibat keteledoran ekonomi modern dalam beberapa hal,
yaitu :
1)
kapitalisme modern terlalu tergantung pada otoritas pada teoretisi
sosialekonomi seperti Adam Smith, J.S.Mill, Max Weber, Keynes, Samuelson, dan
lain-lain yang menciptakan postulasi teoritis untuk secara sewenangwenang
merancang skenario bagi berlangsungnya prinsip kapitalisme;
2)
modernisme memahami perkembangan sejarah secara keliru ketika menganggap
sejarah sebagai suatu gerakan linear menuju suatu titik yang sudah pasti.
Postmodenisme muncul dengan gagasan bahwa sejarah merupakan suatu genealogi,
yakni proses yang polivalen, dan
3) erat
kaitannya dengan kekeliruan dalam menginterpretasi perkembangan sejarah,
ekonomi modern cenderung untuk hanya memperhitungkan aspek-aspek noble material
dan mengesampingkan vulgar material sehingga berbagai upaya penyelesaian krisis
seringkali justru berubah menjadi pelecehan. Inkonsistensi yang terjadi adalah
akibat rendahnya empati para pembuat keputusan terhadap persoalan-persoalan
yang mereka hadapi.
Postmodernisme
bukanlah suatu gerakan homogen atau suatu kebulatan yang utuh. Sebaliknya,
gerakan ini dipengaruhi oleh berbagai aliran pemikiran yang meliputi Mrxisme
Barat, struktualisme Prancis, nihilisme, etnometodogi, romantisisme,
popularisme, dan hermeneutika. Heterogenitas inilah yang barangkali menyebabkan
sulitnya pemahaman orang awam terhadap postmodernisme. Dalam wujudnya yang
bukan merupakan suatu kebulatan, postmodernisme tidak dapat dianggap sebagai
suatu paradigma alternatif yang berpretensi untuk menawarkan solusi bagi
persoalan-persoalan yang ditimbulkan oleh modernisme, melainkan lebih merupakan
sebuah kritik permanen yang selalu mengingatkan kita untuk lebih mengenali
esensi segala sesuatu dan mengurangi kecenderungan untuk secara sewenang-wenang
membuat suatu standar interpretasi yang belum tentu benar.
CIRI-CIRI POSMODERNISME
Akbar S. Ahmed mengatakan terdapat delapan karakter
sosiologis posmodernisme yang menonjol yaitu :
Satu, timbulnya
pemberontakan secara kritis terhadap proyek modernitas; memudarnya kepercayaan
pada agama yang bersifat transenden (meta-narasi); dan diterimanya pandangan
pluralisme relativisme kebenaran.
Dua, meledaknya industri media massa, sehingga ia
bagaikan perpanjangan dari sistem indera, organ dan saraf kita, yang pada
urutannya menjadikan dunia menjadi terasa kecil. Lebih dari itu, kekuatan media
massa telah menjelma bagaikan “agama” atau “tuhan” sekuler, dalam artian
perilaku orang tidak lagi ditentukan oleh agama-agama tradisional, tetapi tanpa
disadari telah diatur oleh media massa, semisal program televisi.
Tiga, munculnya
radikalisme etnis dan keagamaan. Fenomena ini muncul diduga sebagai reaksi atau
alternatif ketika orang semakin meragukan terhadap kebenaran sains, teknologi
dan filsafat yang dinilai gagal memenuhi janjinya untuk membebaskan manusia,
tetapi sebaliknya, yang terjadi adalah penindasan.
Empat, munculnya
kecenderungan baru untuk menemukan identitas dan apresiasi serta keterikatan
rasionalisme dengan masa lalu.
Lima, semakin
menguatnya wilayah perkotaan (urban) sebagai pusat kebudayaan, dan wilayah pedesaan
sebagai daerah pinggiran. Pola ini juga berlaku bagi menguatnya dominasi negara
maju atas negara berkembang. Ibarat negara maju sebagai “titik pusat” yang
menentukan gerak pada “lingkaran pinggir”.
Enam, semakin
terbukanya peluang bagi klas-klas sosial atau kelompok untuk mengemukakan
pendapat secara lebih bebas. Dengan kata lain, era posmodernisme telah ikut
mendorong bagi proses demokratisasi.
Tujuh, era
posmodernisme juga ditandai dengan munculnya kecenderungan bagi tumbuhnya
eklektisisme dan pencampuradukan dari berbagai wacana, potret serpihan-serpihan
realitas, sehingga seseorang sulit untuk ditempatkan secara ketat pada kelompok
budaya secara eksklusif.
Delapan, bahasa
yang digunakan dalam waacana posmodernisme seringkali mengesankan ketidakjelasan
makna dan inkonsistensi sehingga apa yang disebut “era posmodernisme” banyak
mengandung paradoks.
SUMBER:
Atang
Abdul Hakim dan Beni Ahmad Saebani, 2008. Filsafat Umum. Pustaka Setia, Bandung.
Akbar
S. Ahmed. Posmodernisme
and Islam. 1992
Bambang Sugiharto. Postmodernisme:Tantangan bagi Filsafat. Yogyakarta,Kanisius, 1996.
Frans Magnis Suseno, Pijar-Pijar Filsafat, Yogyakarta. Yogyakarta, Kanisius, 2005.
Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta, Penerbit Kanisius. 1980.
Bambang Sugiharto. Postmodernisme:Tantangan bagi Filsafat. Yogyakarta,Kanisius, 1996.
Frans Magnis Suseno, Pijar-Pijar Filsafat, Yogyakarta. Yogyakarta, Kanisius, 2005.
Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta, Penerbit Kanisius. 1980.
Nama
: Syifa farhana fajrin
Kelas
: 3EB15
NPM
: 26211999
No comments:
Post a Comment